Jumat, 05 Juli 2013

Travel Series: Jalan Jalan Men versi Aceh

Oleh: Tim Jalan-Jalan Men

Kisah Jebraw yang awalnya ngaco dan salah paham, dia akhirnya sampai ke Aceh dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari harta karun di tempat ini. Tujuannya adalah untuk memberikan kesan pada 'gebetannya' Naya. So, alhasil Naya pun takluk dengan usaha sang Jebraw yang berhasil membawanya ke sebuah mesjid yang hanya satu-satunya bangunan yang masih tersisa dan selamat dari terangan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 silam di tanah rencong, Aceh.

Cerita behind the scene:
Jebraw dan timnya sempat mengunjungi Museum Tsunami Aceh, sebuah bagunan megah karya Ridwal Kamil, yang kini telah menjadi ikon provinsi Aceh. Naya sempat terkagum-kagum dengan design bangunan museum ini. Tau gak?? Saat tim Jalan-Jalan Men selesai shooting dan hendak beranjak ke lokasi berikutnya, Naya hampir aja tertinggal lho! Lha, koq bisa ya?

Ternyata Naya sedang shalat di musala lantai 3 Museum Tsunami, dan lama banget menghayati setiap design dan filosofi dari museum ini. Wow.... mau liat hasilnya? Berikut videonya....



Selasa, 21 Mei 2013

Museum Tsunami Aceh Documentary Film

Oleh: Alfi Rahman
Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala


Museum Tsunami Aceh: Prasasti yang Berbicara tentang Apa yang Kita Sebut 'Cinta' pada Mereka yang Tergulung Bersama Gelombang.



Minggu, 24 Februari 2013

Filosofi Museum Tsunami Aceh


Oleh: Nela Vitriani

Desain dan pembangunan Museum Aceh dengan konsep ‘Rumoh Aceh as Escape Building’ mempunyai beragam filosofi. Pada lantai dasar museum ini menceritakan bagaimana tsunami terjadi melalui arsitektur yang didesain secara unik. Pada masing-masing ruangan memiliki filosofi tersendiri yang mendeskripsikan gambaran tentang tsunami sebagai memorial dari bencana besar yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam yang menelan korban jiwa dalam jumlah yang cukup besar mencapai kurang lebih 240.000 jiwa. Berikut filosofi dari design lantai dasar Museum Tsunami Aceh.

1.       Space of Fear (Lorong Tsunami)

Lorong Tsunami merupakan akses awal pengunjung untuk memasuki Museum Tsunami. Memiliki panjang 30 m dan tinggi mencapai 19-23 m melambangkan tingginya gelombang tsunami yang terjadi pada tahun 2004 silam.  Air mengalir di kedua sisi dinding museum, suara gemuruh air, cahaya yang remang dan gelap, lorong yang sempit dan lembab, mendeskripsikan ketakutan masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi, atau disebut space of fear.

Museum Tsunami sebagai Media Evakuasi


Oleh: Rahmadhani, M.Bus

Selama berlangsung Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh pasca gempa dan Tsunami yang menimpa Aceh pada akhir Desember 2004 yang melibatkan hampir seluruh masyarakat dan lembaga nasional/internasional telah menghasilkan berbagai peluang dalam bentuk kemajuan pembangunan pada berbagai sektor yang telah dicapai dan dibangun, salah satunya adalah Museum Tsunami Aceh.

Tulisan ini terilhami saat kejadian dua gempa besar "megaquakes" yang mengguncang wilayah daratan Sumatera dan kepulauan Simeulue tanggal 11 April 2012. Kedua gempa tersebut yang diperkirakan akan mengakibatkan Tsunami telah menimbulkan kekhawatiran, kemacetan dan kepanikan massa di wilayah pantai barat Sumatera, khususnya Aceh. Bagaimanapun, pasca gempa besar tersebut, Museum Tsunami Aceh yang terletak strategis di pusat Kota Banda Aceh telah menjadi pilihan bagi masyarakat, khususnya para pelajar/siswa sebagai pusat evakuasi untuk menyelamatkan diri mengantisipasi perkiraan akan terjadi Tsunami.

Keberadaan Museum Tsunami Aceh sebagai museum kebanggaan masyarakat Aceh dan dunia atas kebangkitan masyarakat Aceh, selain menjadi simbol kekuatan dan kesabaran masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana Tsunami, juga menjadi Icon Pariwisata Tsunami Aceh ke depan. Museum yang dibangun melalui pendekatan arsitektur yang bernuansa Islami dan budaya Aceh dengan konsep dan design "Rumoh Aceh as escape hill" memiliki berbagai koleksi peninggalan Tsunami, media berbagi pengalaman bencana dan pengetahuan kebencanaan (geologi) telah menjadi pusat edukasi, rekreasi dan evakuasi yang bersifat efektif dan produktif bagi masyarakat untuk selalu mengingat tragedi yang pernah terjadi dalam rangka menggugah respon kritis pada isu-isu kebencanaan dan membangun kesadaran serta motivasi masyarakat menuju budaya kesiap-siagaan bencana "Disaster Risk Reduction" masa akan datang.

Harusnya Museum Menjadi Sarana Edukasi


Banda Aceh - Mendengar kata ‘museum’ identik dengan benda-benda purba atau langka yang telah jarang ada di sembarang tempat (antik). Terdapat anekdot yang mengatakan kecenderungan masyarakat mengunjungi museum hanya dua kali seumur hidup, yaitu saat mengenyam pendidikan seperti sekolah atau kuliah dan saat telah memiliki cucu.

Rahmadhani Sulaiman, M.Bus, Kepala Museum Tsunami Banda Aceh, saat menghadiri acara Sosialisasi Duta Museum Aceh 2012 di Hotel Grand Nanggoe Banda Aceh (11/12/2012) mengatakan, “Pelajar baru akan mengunjungi museum saat memperoleh tugas dari sekolah atau kampus. Kedua, saat kita telah memiliki cucu barulah akan mengunjungi museum sekedar untuk memperkenalkan sejarah kepada generasi penerus. Padahal museum dapat dijadikan sarana edukasi yang baik untuk segala kalangan usia”.

Senin, 18 Februari 2013

Museum Tsunami Aceh: "Rumoh Aceh Escape Hill" Karya Ridwan Kamil


Banda Aceh - Lorong sempit itu gelap gulita. Di sisi kiri dan kanannya ada air terjun yang mengeluarkan suara gemuruh air, kadang memercik pelan, kadang bergemuruh kencang. Sesaat suara-suara itu mengingatkan kembali pada kejadian tsunami 26 Januari 2004 yang melanda Banda Aceh dan sekitarnya.

Itulah suasana yang menyambut kita saat memasuki "Rumoh Aceh Escape Hill", bangunan monumental berbentuk epicenter gelombang laut, Museum Tsunami Aceh, yang baru saja dibuka oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf di Banda Aceh, Senin (10/05/2011) lalu.

M Ridwan Kamil, sang arsitek museum merancang ruang tersebut untuk mengingatkan kita pada suasana tsunami, sebelum kita memasuki ruang-ruang selanjutnya yang juga sarat dengan makna. Kita pun dibawa pada sebuah perenungan lebih dalam melalui ruang The light of God. Ini adalah sebuah ruang berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya ke atas sebuah lubang dengan tulisan arab “Allah” dengan dinding sumur dipenuhi nama para korban. Ruangan yang mengandung nilai-nilai religi cerminan dari Hablumminallah (konsep hubungan manusia dan Allah).

Menjelajahi Museum Tsunami Aceh

Oleh: Nela Vitriani

Museum Tsunami merupakan museum tempat mengenang kembali peristiwa dahsyat yang pernah melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 silam, yang kurang lebih menelan korban sebanyak 240.000 jiwa. Museum ini terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda dekat Simpang Jam dan berseberangan dengan Lapangan Blang Padang kota Banda Aceh. Bangunan museum ini konon didesain oleh seorang dosen arsitektur ITB Bandung, M. Ridwan Kamil.  Desain yang berjudul Rumoh Aceh as Escape Hill ini mengambil ide dasar rumoh Aceh  yaitu rumah tradisional masyarakat Aceh berupa bangunan rumah panggung. Adapun tujuan pembangunan museum ini tidak hanya menjadi sebuah bangunan monumen, tetapi juga sebagai objek sejarah, dimana bangunan ini menjadi tempat pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami. Selain itu bangunan ini diharapkan menjadi warisan untuk generasi Aceh di masa mendatang sebagai pesan dan pelajaran bahwa tsunami pernah melanda Aceh yang telah menelan banyak korban. Pembangunan museum ini telah menghabiskan anggaran mencapai 140 miliyar rupiah.

Bangunan museum ini terdiri dari 4 tingkat dengan hiasan dekorasi bernuansa islam. Dari arah luar dapat terlihat bangunan ini berbentuk seperti kapal, dengan sebuah mencu suar berdiri tegak di atasnya. Tampilan eksterior yang luar biasa yang mengekspresikan keberagaman budaya Aceh terlihat dari ornamen dekoratif unsur transparansi elemen kulit luar bangunan. Ornamen ini melambangkan tarian saman sebagai cerminan Hablumminannas, yaitu konsep hubungan antar manusia dalam Islam.

Pada lantai dasar museum terdapat ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik. Lantai ini dibuat meninggi yang betujuan sebagai escape hill, sebuah taman berbentuk bukit dapat dijadikan sebagai salah satu antisipasi lokasi penyelamatan jika terjadi banjir dan bencana tsunami di masa mendatang. Setiap lantai (berukuran 25 meter x 20 meter) dapat menampung ribuan warga dalam kondisi darurat.